Monday, April 1, 2013

4 Fakta Alkitab Tentang Perbuatan Baik


4 FAKTA ALKITAB TENTANG PERBUATAN BAIK

Oleh : Ev. I Ketut Sunalis Muadi, S.Th


S
atu hal yang membedakan agama Kristen dengan agama-agama lain di dunia adalah pandangan tentang perbuatan baik. Kebanyakan agama menganut paham bahwa nasib kekal manusia tergantung pada perbuatan baik. Usaha keras manusia dalam berbuat baik dianggap akan bisa membawa manusia ke Surga.
Optimisme yang tak masuk akal ini didasarkan atas keyakinan berlebihan tentang kebenaran manusia dan ketidaktahuan tentang Kemahasucian Allah. Allah punya tolok ukur yang mutlak, Di hadapan Allah, kita akan binasa karena dosa dan kejahatan hidup kita. Alkitab menyatakan bawa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan. Kebenaran sempurna Tuhan Yesus adalah satu-satunya dasar yang melalui-Nya kita dapat bersekutu dengan Allah yang hidup. Moralitas bukanlah jawabannya untuk bisa selamat. Dari orang yang bejad, ke golongan berpendidikan, sampai ke orang yang sangat bermoral, semua sia-sia. Analoginya begini: tak ada pelajaran renang yang dapat menolong orang menyeberang dari pulau Jawa ke papua. Kita memerlukan seseorang yang dapat membawa kita ke sana. Itulah yang Kristus perbuat bagi kita.

Pada dasarnya jika kita  hidup sempurna, kita dapat masuk Surga dengan perbuatan kita sendiri. Artinya, kalau kita mampu melakukan hukum Taurat dengan sempurna, maka kita pasti dibenarkan atau selamat. Hal ini paulus nyatakan dalam surat Roma.
Rm 2:13  Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.

Namun faktanya  tak seorang pun yang pernah berhasil dan tak akan pernah ada yang berhasil.
Rm 3:20  Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.
Kalau ayat ini kita terjemahkan secara bebas berdasarkan konteks di mana tidak ada satu manusiapun yang berhasil berbuat baik secara sempurna, maka sebaiknya ayat ini diterjemahkan sebagai berikut:
Rm 3:20  Sebab tidak seorangpun yang pernah  berhasil  dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.

Semua yang dianut orang di dunia pada dasarnya seumpama "pelajaran renang"  memberikan perangkat etika untuk pola hidup yang indah. Tetapi yang kurang pada manusia bukanlah pengertian tentang bagaimana harus hidup, tetapi kuasa untuk hidup sebagaimana seharusnya. Artinya: dengan berenang sebenarnya seseorang bisa sampai dari jawa ke papua, tapi dalam faktanya tak seorangpun yang pernah berhasil. Ilmu renang yang mereka kenal pada akhirnya hanya membuktikan bahwa mereka mengenal betapa lebarnya jarak yang harus mereka tempun dan mereka menyadari betapa terbatasnya  mereka. Kabar baik dibawa oleh Yesus Kristus yang campur tangan dalam sejarah manusia, melakukan apa yang tak mungkin dapat kita lakukan sendiri. Melalui Dia kita dapat diperdamaikan dengan Allah, memperoleh kebenaran-Nya dan dipersekutukan dengan-Nya dalam hadirat-Nya.

Berikut, kita akan belajar apa kata Alkitab tentang perbuatan baik. Ada 4 faktaAlkitab tentang perbuatan baik yang akan kita bahas pada kesempatan ini.

I.                   PERBUATAN BAIK YANG DILAKUKAN DI LUAR KRISTUS ADALAH BERSIFAT DOSA

Mungkin ada yang protes dengan fakta yang pertama ini. Bukankah seharusnya sebuah perbuatan baik itu tetap baik nilainya meskipun dilakukan di luar Kristus?.  Mana mungkin ketika sebuah kebaikan seperti menolong orang susah atau miskin yang dilakukan oleh orang non Kristen bersifat berdosa. Kalau ada orang yang yang meragukan fakta ini berarti dia belum mengerti tentang standar Tuhan dalam menilai sesuatu.
Ada beberapa alasan bahwa Perbuatan orang yang belum dilahirkan kembali tetap bersifat dosa:
-      Karena perbuatan mereka tidak berasal dari hati yang disucikan oleh iman,
-      Karena perbuatan mereka tidak dilakukan sesuai dengan Kitab Suci
-      Karena perbuatan mereka tidak bertujuan pada kemuliaan Allah, satu-satu tujuan yang benar (Kej 4:5; Ibr 11:4,6; 1Kor 13:1; Mat 6:2,5).

Oleh karena itu, perbuatan orang yang belum dilahirkan kembali tidak dapat berkenan kepada Allah, pun tidak dapat menjadikan seorang layak menerima kasih karunia (Ams 5:21,22; Rom 9:16; Tit 3:5).

Kalau demikian mengapa hanya perbuatan baik yang dikerjakan dalam Kristus saja yang bisa dipandang sebagai perbuatan baik yang berkenan kepada Allah?

1.      Karena perbuatan baik yang berkenan pada Allah adalah pekerjaan Yesus Kristus dan hanya mungkin dilakukan saat kita berada dalam Yesus.

Dengan demikian tidak mungkin orang yang tidak berhubungan sama sekali dengan Yesus akan mampu melakukan perbuatan baik.
Flp 1:11  penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

Yoh 15:4  Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Yoh 15:5  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.


2.      Karena perbuatan baik adalah pekerjaan Allah di dalam kita, sementara Yesus satu-satunya jalan masuk pada Bapa.

Yes 26:12   Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.
Flp 2:13  karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.


3.      Karena Firman Tuhan adalah perlengkapan untuk perbuatan baik.

2Tim 3:16  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
2Tim 3:17  Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Yak 1:25  Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang,dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Dengan demikian perbuatan baik yang dilakukan diluar Firman Tuhan (Alkitab) adalah perbuatan baik yang luar standar Allah. Alkitab adalah perlengkapan untuk perbuatan baik. Hanya orang yang percaya paa Alkitab yang akan diperlengkapi untuk berbuat baik.

Inilah alasan mengapa setiap orang harus menerima Kristus sebagai Tuhan dan juru selamatnya secara pribadi. Karena apapun yang manusia perbuat di luar Yesus adalah dosa adanya. Perbuatan baik diluar Yesus dosa, apalagi perbuatan jahat jelas lebih dosa.

Ada orang kaya raya yang yang suka berbagi kepada orang miskin. Hal ini dia lakukan karena dia yakini bahwa amal ibadahnya adalah cara dia bisa berkenan pada Allah. Namun dalam kacamata Tuhan apapun yang dilakukan orang kaya tadi nilainya tetap dosa. Apapun yang manusia lakukan diluar Yesus adalah dosa adanya dan semua perbuatan itu tidak pernah terhubung dengan Allah karena Yesus adalah satu-satunya jalan masuk pada Allah.

II.                PERUATAN BAIK YANG BENAR BERSUMBER DARI APA YANG TUHAN PERINTAHKAN DALAM FIRMANNYA.

Hanya perbuatan baik yang diperintahkan Allah dalam Firman-Nya yang suci boleh dianggap sebagai perbuatan baik (Mi 6:8; Ibr 13:21).

Mi 6:8  "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"
Ibr 13:21  kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

Kebaikan yang dilakukan manusia karena semangat yang buta atau karena berkedok maksud yang kurang baik, bukanlah perbuatan baik yang sejati, karena perbuatan-perbuatan itu tidak disetujui oleh Kitab Suci ( Mat 15:9; Yes 29:13).

Mat 15:9  Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."
Yes 29:13  Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,

Dengan demikian setiap perbuatan baik yang tidak bersumber dari Alkitab mungkin kelihatannya baik, tapi hakikatnya jahat. Mengapa bisa demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini saya berikan sebuah contoh. Kalau ada orang yang memberi sedekah bukankah itu hal yang baik,,?, tentu baik bukan. Tapi kalau ada orang yang memberi sedekah dengan motivasi dan tujuan ingin dipuji orang, menurut Alkitab itu sifatnya berdosa, karena tindakan itu tidak murni. Menurut Alkitab, Tuhan tidak hanya menilai sebuah tindakan dari tindakan itu sendiri, tapi dilihat dari hati sebagai sumber tindakan tersebut. Pedoman-pedoman perbuatan baik yang benar hanya ditemukan dalam Firman Tuhan.

Ada seorang anak kecil umur 3 tahun berteriak gembira kepada ibunya. Anak ini begitu senang karena mendapati dirinya yang ternyata memiliki tinggi 3 meter. Ia berteriak dengan keras: “ Mama tinggiku sudah sama dengan tingginya goliat”. Sang mama yang kaget mendengar apa yang dikatakan bocah kecil itu kemudian bertanya: “Dari mana kamu tahu bahwa tinngimu 3 Meter”.  Saya mengetahui dari mengukur berdasarkan ukuran yang saya buat. 

Demikian juga dalam berbuat baik, tentu kita mengira perbuatan baik kita begitu tinggi berdasarkan ukuran yang kita buat sendiri. Tapi begitu dibawa pada ukuran yang benar, maka perbuatan baik itu jauh dari sempurna. Untuk itu gunakan Firman Tuhan sebagai standart dan perlengkapan dalam berbuat baik.


III.             PERBUATAN BAIK TIDAK DIHASILKAN BERDASARKAN KEKUATAN DIRI SENDIRI TAPI BERASAL DARI ROH KUDUS.

Kemampuan orang percaya untuk berbuat baik sama sekali tidak berasal dari mereka sendiri melainkan seluruhnya berasal dari Roh Kristus (Yoh 15:5,6).

Yoh 15: 5-6
5  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
6  Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Selain sarana-sarana yang sudah mereka terima dari Roh, orang percaya perlu pekerjaan Roh selanjutnya, sehingga mereka memiliki kehendak dan kesanggupan untuk melakukan perbuatan yang menyenangkan Allah (2Kor 3:5; Fili 2:13).

2 Kor 3: 5  Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.

Fil 2:13  karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

Menghubungkan fakta bahwa perintah berbuat baik itu diberikan kepada manusia di mana hal itu menunjukan bahwa berbuat baik adalah bagian manusia dan fakta bahwa perbuatan baik adalah sesuatu yang dikerjakan Tuhan  di dalam kita bisa dihubungkan dalam sebuah kata “Sinergisme”. Hanya orang yang bersinergi dengan Roh kudus akan mampu mengerjakan perbuatan baik. Dengan demikian tidak mungkin manusia tanpa Roh Kudus bisa berbuat baik.

IV.             PERBUATAN BAIK TIDAK MENYELAMATKAN TAPI BUKTI TELAH DISELAMATKAN


Perbuatan-perbuatan yang sungguh-sungguh baik dan yang dikerjakan karena patuh pada perintah Allah merupakan buah dan bukti iman yang sejati dan hidup.  ( Yak 2:18,22). Maka dengan perbuatan baik orang percaya menyatakan rasa syukurnya, menguatkan keyakinannya akan keselamatan, membangun rohani saudara seiman, memperindah kesaksiannya akan Injil, dan membuang kepicikan musuh Injil ( Mazm 116:12,13; 1Yoh 2:3,5; 2Pet 1:5-11; Mat 6:16; 1Tim 6:1; 1Pet 2:15; Fili 1:11). Singkatnya mereka memuliakan Allah yang menjadikan mereka ciptaan baru di dalam Kristus dan selanjutnya mereka menghasilkan buah yang menyatakan penyucian dan hidup kekal. ( Ef 2:10; Rom 6:22)
Mustahil kita beroleh keampunan dosa atau hidup kekal dari tangan Allah oleh kebaikan atau jasa kita. Pekerjaan baik kita tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang. Apalagi ada jarak yang tak terhingga antara kita dengan Allah dan tidak ada suatu pekerjaan atau perbuatan kita yang dapat menguntungkan Allah atau membayar kembali hutang kita dari dosa kita yang dulu (Rom 3:20; Ef 2:8,9; Rom 4:6). Memang, ketika kita sudah berbuat semua yang kita dapat perbuat, kita hanya melakukan apa yang kita harus lakukan dan tetap adalah hamba-hamba yang tidak berguna. Sejauh perbuatan kita adalah usaha kita, perbuatan itu tercemar dan dicampur dengan banyak kelemahan dan kekurangan, maka pekerjaan itu tidak dapat memenuhi syarat-syarat Allah yang teliti (Mazm 143:2; Yes 64:6).

Orang percaya di dalam ketaatannya yang maksimum kepada Allah di dalam kehidupannya, masih jauh dari kemampuan melampaui apa yang dikehendaki Allah. Mereka tidak melakukan banyak yang wajib mereka perbuat (Ayub 9:2,3; Gal 5:17; Luk 17:10).

Namun demikian, karena kepribadian orang percaya diterima Allah melalui Kristus, perbuatan orang percaya juga diterima Allah sebagai perbuatan yang dilakukan oleh Kristus ( Ef 1:6; 1Pet 2:5). Bukannya seakan-akan perbuatan orang percaya tanpa salah dan tanpa cacat dalam pandangan Allah. Ketika Allah memandang perbuatan orang percaya melalui Anak-Nya, Allah berkenan untuk menerima perbuatan itu dan memberi pahala atas yang tulus walaupun perbuatan itu disertai dengan banyak kelemahan dan kekurangan ( Mat 25:21,23; Ibr 6:10).

Memang orang yang tidak suci hatinya tidak akan melihat Allah (Mat 5:8), dan memang tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan (Ibr 12:14). Tetapi bagaimana seseorang bisa suci hatinya? Bagaimana seseorang bisa mempunyai kekudusan? Dengan mengusahakannya dengan kekuatannya sendiri? Kalau kemudian kita  mengatakan ‘ya’, maka coba kita perhatikan gambaran Firman Tuhan di bawah ini tentang keadaan manusia di hadapan Allah.
Yes 64:6a - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor.
Perhatikan bahwa Yesaya bukan mengatakan ‘segala dosa kami seperti kain kotor’. Ia juga tidak mengatakan ‘sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’. Yesaya mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’.
Apakah “kain kotor” itu?. Kata “Kotor” dalam ayat ini menggunakan kata “עד ‘ed or (plural)  םידע” dalam bahsa ibraninya. Kata Ini dibaca “Ayd”. Saya tidak tahu persis apakah dari kata ini muncul dikemudian hari istilah” haid “ dalam bahasa indonesia. Yang jelas kata “kotor” berhubungan erat dengan darah kotor yang keluar saat seorang wanita menstruasi.  “Kain kotor” adalah kain yang digunakan pada zaman dulu sebagai pembalut wanita. Mungkin seperti “Softek” pada zaman sekarang. Dengan demikian kalau kesalehan/perbuatan baik kita seperti kain kotor, maka itu sama saja dengan mengatakan bahwa perbuatan baik kita adalah sama dengan pembalut wanita. Dengan demikian orang yang percaya dan bersandar pada perbuatan baik untuk bisa selamat adalah sama dengan orang yang mengandalkan pembalut wanita untuk selamat. Ini sama saja dengan mengandalkan “darah kotor’ untuk selamat, sementara dalam iman Kristen kita selamat hanya karena “darah anak domba” yaitu “darah Yesus” yang merupakan darah yang tak bercacat dan tak bernoda.
1 Ptr 1:18  Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,
1Ptr 1:19  melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
AMIN

1 comment:

  1. saya sangat setuju dengan artikel ini dan terima kasih sudah dituangkan dalam tulisan semoga org bnyk membaca dan memahami kembali konteks perbuatan baik dari yang selama ini dilakukan bagi yang belum percaya kepadaNya, imanlah yang menyelamatkan dalam hal ini Yesus kristus sebagai penghubung manusia dengan Allah, BUKAN berbuat baik, terima kasih, JBU

    ReplyDelete