Tuesday, July 23, 2013

MENGAPA MENGHAKIMI ITU DILARANG


MENGAPA MENGHAKIMI ITU DILARANG
OLEH: EV. I KETUT SUNALIS MUADI, S.TH

Matius 7:1-5
1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
2  Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
3  Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
4  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
5  Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Kata “menghakimi” dalam ayat ini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani “κρινω’ (krino).Dalam PB kata “κρινω’ (krino)ini digunakan sebanyak 114 kali yang diterjemahkan dengan bermacam-macam arti yang berbeda.
Kadang kata “krino” diterjemahkan menjadi, menghakimi, mempertimbangkan, membedakan, memutuskan dan menjatuhkan hukuman.
Dalam khotbah saya yang lain, dengan judul “jangan menghakimi” sudah saya singgung bahwa menghakimi itu boleh asal:
-          Dilakukan dalam “batasan” yang benar.

Defenisi /batasan dari kata “menghakimi”(Krino) harus jelas. Menghakimi boleh jika arti “krino” adalah  mempertimbangkan atau membedakan. Karena kita punya kewajiban dalam membedakan ajaran yang benar dan sesat, membedakan nabi asli atau palsu.Tapi kalau defenisinya sampai dalam “menjatuhkan hukuman” maka “menghakimi itu dilarang.

-          Dilakukan dengan cara yang benar.

Alkitab mengajar kita kalau menghakimi harus dilakukan dengan dikaios/adil/benar(Yoh 7:24). Adapun caranya adalah jangan menghakimi hanya berdasarkan apa yang nampak. Selanjutnya jangan menghakimi dengan ukuran manusia (Yoh 8:15).      Di luar cara yang benar menghakimi itu dilarang.

-          Dilkukan dengan orang yang benar.

Orang yang benar yang dimaksudkan disini adalah orang yang tak berdosa alias tidak ada balok di  dalam matanya.

-          Dilakukan dengan motivasi yang benar.
Kalau motivasinya benar, maka menghakimi itu boleh,  yang penting bukan untuk menjatuhkan atau mencari-cari kesalahan orang lain.

Jikalau dalam menghakimi syarat-syarat di atas tidak terpenuhi, maka yang berlaku adalah jangan menghakimi atau dilarang menghakimi.
Pada kesempatan ini kita akan belajar tentang alasan-alasan mengapa menghakimi itu dilarang.
I.                   KARENA MENGHAKIMI ITU BERBAHAYA
Pada bagian ini kita akan meneliti bahaya-bahaya yang timbul disaat kita menghakimi orang lain.
1.      Menghakimi orang lain=menghakimi diri sendiri
Mat 7:1-2
1  "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
2  Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Luk 6:37  "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
Penghakiman itu berbahaya  bagi diri sendiri, karena ‘Dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri’ (Rom 2:1).
Rm 2:1  Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.
Menghakimi orang lain berarti memberi kesempatan untuk penghakiman yg serupa atas diri sendiri.
Craig S. Keener, dalam The IVP Bible Background Commentary: New Testament, mengungkapkan bahwa kata-kata Yesus dalam Matius 7 memiliki hubungan erat dengan apa yang disebut dengan “ukuran menghakimi” pada masa itu. Di pasar-pasar orang biasanya menukarkan barangnya dengan barang yang lain yang dianggap memiliki nilai yang sebanding. Idenya adalah apa yang diberi harus sebanding dengan apa yang diterima. Ide ini kemudian diterapkan dalam bagaimana seseorang harus menerima konsekuensi dari tindakannya, yang biasanya dikenal dengan sebutan “retribusi” (Ams. 19:17; Mat. 5:7; 6:14-15; bnd. prinsp PL bahwa para saksi palsu akan menerima hukuman terhadap dusta mereka [Ul. 19:18–21]; dan para hakim yang diangkat harus menghakimi dengan adil dan sebagaimana mestinya [Kel. 23:6–8; Ul. 16:18–20]). Itulah sebabnya, pada waktu itu ada semacam semboyan retributif (bnd. Ul. 28) yang berhubungan dengan bagaimana mengadakan penilaian terhadap sesamanya, berbunyi demikian, “As a man measures it will be measured back to him”.
Saya beritahukan kepada Anda bahwa hal ini adalah prinsip penting yang menjadi landasan yang harus diketahui oleh setiap orang Kristen. Inilah rahasia kehidupan orang Kristen yang perlu kita  ketahui benar-benar. Apa rahasia itu? Bagaimana cara kita bertindak akan menjadi cara yang dipakai Allah dalam berurusan dengan kita. Terapkanlah prinsip ini, dan Anda akan melihat bahwa hal itu mencakup keseluruhan kehidupan Kristen Anda. Ini adalah prinsip terpenting yang perlu dipahami oleh setiap orang Kristen. Jika Anda tidak mengampuni seorang saudara seiman, Anda tidak akan diampuni. Anda menghakimi saudara seiman, maka Allah akan menghakimi Anda. Semakin berat kutukan Anda, semakin berat pula Allah akan mengutuk Anda. Sangat mengerikan. Ini adalah bagian peringatan dari ajaran Tuhan.
Ada seorang kritikus seni yang sudah lanjut usia. Dia cukup ahli di dalam menilai dan mengkritik lukisan. Sudah banyak waktu yang dihabiskannya untuk mempelajari kritik seni dan sangat banyak buku tentang kritik seni yang sudah dibacanya, sampai-sampai kesehatan matanya terganggu. Pada suatu hari ia mengunjungi sebuah pameran lukisan yang besar, dan sesampainya di tempat pameran ia baru menyadari bahwa kacamatanya tertinggal. Jadi ia harus memelototi lukisan di sana dari jarak yang sangat dekat. Lalu ia mulai menilai lukisan-lukisan yang dipamerkan. Tanpa henti ia mencela setiap lukisan yang diamatinya, yang ini salah, yang itu tidak sesuai proporsinya dan yang lain lagi tidak jelas gayanya. Setiap lukisan mendapat giliran untuk dicela. Satu hal yang lucu dari para kritikus seni adalah seringkali mereka sendiri tidak pernah berkarya tetapi mereka fasih dalam mengkritik karya orang lain. Akhirnya kritikus tua ini sampai pada sebuah pigura besar berwarna keemasan dan ia mendekatkan wajahnya sedemikian rupa untuk mulai mengamati gambar yang ada di dalam pigura itu. Sesudah cukup lama memandang, ia lalu mulai menyatakan pendapatnya, "Lukisan ini buruk sekali! Bagaimana mungkin sebuah lukisan yang sangat buruk dapat dipamerkan di galeri yang berkelas? Lukisan ini benar-benar tidak memiliki proporsi dan wajah yang ditampilkan pun sangat buruk". Dan ia menjadi sangat geram lalu mulai mencela pihak galeri yang sudah memamerkan lukisan potret yang luar biasa buruknya. Pada titik ini, saya rasa, beberapa dari Anda mungkin sudah dapat menebak apa yang sedang ia amati di dalam pigura itu. Yang dia amati adalah sebuah cermin, dan potret yang ia cela di dalam cermin itu adalah wajahnya sendiri. Ketika ia sedang memarahi pihak galeri, istrinya berkata, "Sayang, sabar dulu. Apa yang sedang kamu lihat itu sebuah cermin." Demikianlah, pada saat ia sedang mengkritik, pada saat ia mengira sedang mengkritik lukisan karya orang lain, ia mengakhirinya dengan mengkritik diri sendiri dan memamerkan kebodohannya.
Jadi sekarang kita dapat memahami makna dari kisah kritikus seni yang sedang menghakimi dirinya sendiri ketika ia menatap ke arah cermin yang dikiranya sebagai lukisan. Yang Anda amati adalah diri Anda sendiri, saudara-saudara. Pada saat Anda mengecam saudara seiman, Anda sedang mengumumkan penghakiman atas diri Anda sendiri. Jadi inilah sisi negatifnya, peringatan bahwa apa yang Anda ukurkan kepada orang lain akan diukurkan kepada Anda.
2.      Menghakimi = fitnah

Yak 4:11  Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.

Dalam ayat ini “memfitnah” disejajarkan dengan “menghakimi”, hal ini wajar karena menghakimi berpotensi fitnah. Mengapa?
Karena dalam menghakimi orang lain, seringkali kita keliru karena tidak mengetahui hal yang sesungguhnya secara lengkap dan menyeluruh.  Tuhan Yesus pernah dihakimi secara tidak patut dan layak oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Akhirnya Tuhan Yesus meminta kalau menghakimi tidak boleh hanya berdasarkan apa yang nampak atau menurut ukuran manusia. Ini berarti bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sudah memfitnah Yesus, karena penghakiman mereka itu tidak benar.
Yoh 7:24  Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil “δικαιος” (dikaios)."
Yoh 8:15  Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun,
Karena menghakimi bisa menimbulkan fitnah makanya menghakimi itu dilarang karena mengandung bahaya yang besar dalam fitnah.

3.      Menghakimi=mencela hukum/Mencela Tuhan
Yak 4:11-12
11  Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.
12  Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?
Mari kita awali dengan fokus pada ayat 11. Apakah kita benar-benar mengerti hal yang disampaikan oleh Yakobus di ayat ini?  Kalau kita menghakimi atau mengecam orang lain, berarti kita sedang mengecam atau menghakimi hukum. Mengapa Yakobus berkata bahwa mengecam orang lain sama dengan mengecam hukum?  Bagaimana mungkin?  Apa hubungan antara tindakan mengecam orang lain dengan mengecam hukum? 
Logika Yakobus sebenarnya sederhana. Karena hukum itu diberikan oleh Tuhan untuk kita taati -dan rangkuman dari hukum yang diberikan oleh Tuhan adalah 'mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri'- maka jika kita mengecam dan menghakimi saudara seiman, bukankah kita sedang menolak perintah Tuhan?  Kalau kita menolak  perintah Tuhan, bukankah kita sedang menolak kedaulatan Tuhan? Ini juga berarti bahwa sikap hati kita terhadap Tuhan ditunjukan oleh sikap hati terhadap hukum-Nya. Dan semua itu terwujud dalam cara-cara kita memperhatikan saudara seiman. Kalau kita meremehkan serta mengecam mereka, berarti kita sedang meremehkan perintah Allah, yang juga berarti bahwa kita meremehkan Allah.

II.                KARENA KITA TIDAK KOMPETEN  UNTUK  ITU
Penyebab selanjutnya mengapa kita dilarang untuk menghakimi adalah karena kita tidak kompeten dibidang itu. Kita tidak cukup cakap untuk menghakimi orang lain. Mengapa?
1.      Karena kita adalah orang berdosa

Tuhan memerintahkan kita dalam kaitan menghakimi adalah penghakiman yang adil/benar (dikaios), tidak hanya didasarkan pada apa yang nampak, tidak juga hanya didasarkan pada ukuran manusia.
Yoh 7:24  Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil."
Yoh 8:15  Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun,
Dengan aturan dalam menghakimi seperti ayat diatas, maka bisa dikatakan bahwa penghakiman semacam itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sempurna.

Sementara itu Alkitab mengatakan bahwa “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Roma 3:10; bnd Roma 3:1-10,23; Roma 5:12, 19; Mzm 14:1). Hanya Yesus Kristus, yang hidup sebagai orang “tidak berdosa” (Ibrani 4:15). Dosa telah merusak segala kemampuan kita yang sempurna, dosa telah membuat pengetahuan kita merosot sedemikian rupa. Dosa juga membuat kita tidak bisa obyektif dalam menilai sesuatu. Semua ini menyiratkan bahwa kita tidak cakap untuk menghakimi, karena kita adalah orang berdosa.

Suatu ketika Yesus  berada di Bait Allah untuk mengajar, dan banyak orang yang mengerumuni diri-Nya. Waktu mengajar orang-orang itu terganggu oleh kedatangan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang membawa seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah (Yoh 8:3). Murka atas keberhasilan Yesus dan jengkel atas ketidakmampuan mereka untuk membungkam-Nya, para pemimpin itu sekarang memanfaatkan kesempatan untuk mempermalukan Dia di hadapan orang banyak. Mereka juga mempermalukan perempuan itu dengan menempatkan dia di tengah-tengah orang banyak tersebut.
Sambil mengingatkan Yesus bahwa hukuman untuk pelanggaran ini adalah dilempari batu (Ul 22:23,24), para pemimpin itu ingin mengetahui keputusan Yesus terhadap perempuan itu. Mereka melakukan itu untuk mencobai Dia dengan menempatkan Dia di dalam sebuah dilema. Apabila Dia mengikuti hukum Taurat, yang tampaknya tidak selalu dilaksanakan dengan secara keras di dalam kasus-kasus semacam itu, Yesus bisa tampak sebagai orang yang tidak berperasaan. Apabila Yesus memutuskan pengampunan, Dia bisa dinyatakan sebagai memiliki pandangan yang terlalu lunak terhadap penerapan hukum Taurat.
Apabila orang orang Farisi itu memang benar-benar ingin memberlakukan hukum Taurat, mereka tentu juga menyeret pihak laki-laki yang bezinah dengan perempuan tersebut. Ini membeberkan motivasi dari pemimpin-pemimpin tersebut.
Reaksi Yesus waktu perempuan yg berzinah dibawa ke hadapan Yesus, Dia berkata, ‘Barangsiapa di antara kamu yg tidak berdosa, hendaklah ia yg pertama melemparkan batu kepada perempuan itu’ (Yoh 8:7).
Yoh 8:7  Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
“Tidak berdosa” di sini tidak harus dimengerti sebagai dosa perzinahan, tetapi dosa secara umum. Kata-kata Yesus menyebabkan berpindahnya perhatian dari Yesus dan perempuan itu kepada para penuduh.
Pernyataan Yesus dalam ayat ini menyiratkan bahwa “menghakimi” dalam arti menghukum, boleh dilakukan oleh orang yang tanpa dosa. Selagi kita masih berdosa, kita tidak pantas dan kompeten dalam melakukan hal tersebut.
Yesus dapat saja melemparkan batu kepada perempuan itu. sebab Dia tanpa dosa; tetapi Dia lebih memperhatikan pemulihan orang berdosa itu ketimbang ketaatan pada hukum Taurat secara teliti. Apabila perkataan-Nya, Aku pun tidak menghukum engkau, kedengaran terlalu lunak, maka hal tersebut diimbangi oleh kelanjutannya, Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi. Sang Pemeriksa Hati melihat ada pertobatan di dalam hati wanita itu, sehingga yang diperlukan hanyalah peringatan untuk masa depan.
Dengan demikian, siapakah kita, sehingga kita harus menghakimi sesama kita, sementara Yesus yang tanpa dosa saja tidak menghakimi perempuan yang berzinah tersebut?  Inilah pertanyaan yang dikemukakan oleh Yakobus.
Yak 4:12  Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?
Dengan demikian pada prinsipnya kita semua adalah terdakwa karena kita adalah orang berdosa. Di saat kita menghakimi maka pada hakikatnya hal itu sama dengan seorang  terdakwa yang duduk dimeja hakim. Anda boleh menghakimi asal anda tidak berdosa, tapi kalau anda berdosa lebih baik jangan menghakimi.
2.       Karena ada balok di mata kita
Kembali pada syarat menghakimi dimana harus adil/benar (dikaios) dan tidak hanya pada apa yang nampak dan tidak juga hanya menggunakan ukuran manusia, maka ini berarti bahwa menghakimi hanya hak Pribadi yang Maha tahu. Kemampuan kita dalam pengamatan terbatas. Pengetahuan kita terbatas, karena hanya Tuhan yang Maha tahu. Karena kondisi manusia semacam itu, maka manusia tidak pernah menjadi pribadi yang cakap dalam menghakimi.
Jangankan untuk mengetahui permasalahan orang lain secara untuh, permasalahan sendiri saja tidak diketahuinya. Yesus mengatakan “balok” saja yang ada di dalam mata kita kita tidak ketahui.
Mat 7:3-5
3  Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
4  Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.

Selanjutnya dalam ayat 5 tersirat bahwa untuk mengeluarkan selumbar dari mata sesama kita, hanya boleh dan bisa dilakukan oleh orang yang telah mengeluarkan balok dari dalam matanya. Artinya hanya orang yang tidak ada balok di matanyalah yang kompeten mengeluarkan selumbar dari mata saudaranya.

5  Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
Dalam ayat-ayat di atas, Yesus menyajikan contoh yang cukup menggelitik. Tuhan Yesus berkata, "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu…" Selumbar (bhs Yunani: “καρφος” karphos) adalah  tampuk, serbuk kayu, tangkai atau ranting yg kecil dan kering, serpihan jerami yg kecil, atau bahkan sehelai rambut (bulu), yg mungkin terbang ke mata. Secara kiasan kata itu dipakai Yesus untuk mengartikan kesalahan yg kecil.
Sedangkan “Balok” (bhs Yunani:  δοκος/dokos) yang dibicarakan di sini adalah balok yang biasa dipakai sebagai penyangga atap. Biasanya berasal dari batang utama sebuah pohon yang sisi-sisinya dipotong persegi dan dipasang sebagai tiang utama.
Orang yang memiliki balok dalam matanya itu, ingin menolong mengeluarkan selumbar dalam mata saudaranya. Tentu motivasi ini sangat baik kelihatannya. Tetapi masalahnya adalah tidak mungkin orang itu dapat menolong mengeluarkan selumbar dari mata saudaranya karena dalam matanya sendiri terdapat sebuah balok besar. Pada saat orang ini ingin mengeluarkan selumbar itu, ada balok yang menghalangi dia untuk bisa melihat dengan jelas selumbar itu. Dengan demikian, tak mungkin pertolongan bisa dilakukan. Dengan kata lain, orang yang ada balok dimatanya tidak kompeten untuk mengeluarkan selumbar yang ada di mata saudaranya. Orang yang punya kesalahan besar tidak akan mampu membersihkan kesalahan kecil saudaranya.
Selanjutnya Paulus juga menyinggung perihal ketidak pantasan kita dalam menghakimi orang lain, jika kita mempunyai kesalahan yang sama.
Rm 2:3  Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?
Dengan demikian, karena kita  melakukan kesalahan yang sama bahkan kesalahan kita lebih besar seperti balok, maka kita tidak  kompeten sama sekali dalam menghakimi, karena menghakimi hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang steril dari kesalahan.
3.      Karena kita tidak punya otoritas untuk itu
Hanya Allah yang memiliki wewenang untuk melakukan penghakiman. Hanya Allah yang berhak menghakimi, karena Ia-lah Allah yang Maha Kuasa, satu-satunya Hakim yang jujur, yang benar dan adil dalam penghakiman-Nya (Wahyu 16:7).
Wahyu 16:7  Dan aku mendengar mezbah itu berkata: "Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu."
Penghakiman bukan hak kita; janganlah tempatkan diri kita di tempat yang tidak seharusnya. Jika kita mengambil tempat Allah sebagai Hakim maka Allah akan menuntut pertanggungjawaban dari diri kita, dengan standar yang kita pakai (Mat 7: 2).
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang punya hak untuk menghakimi sesamanya.(Yakobus 4:11-12)
Penghakiman itu adalah haknya Allah sebab hanya Dia lah satu-satunya yang tidak berdosa dan terbebas dari kejahatan. Dialah yang punya hak untuk menghakimi dosa dan kejahatan manusia. (Yakobus 4:12)
Oleh karena itu jangan tempatkan dirimu ditempat Allah karena hanya Allahlah yang berhak untuk menghakimi manusia.

III.             KARENA BELUM WAKTUNYA
1 Korints 4:3-5
3  Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia (ανθρωπινος/ anthropinos). Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi.
4  Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.
5  Karena itu, janganlah menghakimi (krino)sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.
Dalam ayat-ayat ini, Paulus tidak bersedia mengakui penghakiman oleh orang lain atau oleh pengadilan manusia maupun oleh dirinya sendiri. ”Pengadilan manusia” menggunakan kata ”ανθρωπινος/ anthropinos” yang secara hurfiah berarti ”hari manusia”. Tujuan Paulus adalah mengkontraskan dengan penghakiman Tuhan pada hari Tuhan(1Kor 3:13).
Maksudnya, hari penghakiman manusia tidak ada artinya bagi Paulus. mengapa? sebab hanya Tuhan yang dapat menghakimi, maka penghakiman harus menantikan Dia. Pada waktu yang tepat Dia akan melaksanakannya dengan adil dan menyeluruh, dengan menyelidiki apa yang tersembunyi dalam kegelapan. Saat tersebut adalah saat kadatangan-Nya kembali (bdg. 1Kor 1:7). Sebelum waktu Tuhan datanmg kembali. menghakimi orang lain adalah sesuatu yang dilarang.
Kalau demikian apakah suatu saat orang Kristen boleh menghakimi? ya, pada saat Yesus datang dan mendirikan kerajaan seribu tahun.
Mat 19:28  Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.
Luk 22:29-30
29  Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku,
30  bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.

Dalam 1 Korintus 6 Paulus juga menyinggung tentang tentang hal ini. Suatu saat orang-orang kudus akan menghakimi dunia dan juga malaikat-malaikat.
1Kor 6:2  Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?
1Kor 6:3  Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.
Jadi menghakimi itu dilarang, karena belum waktunya.

~AMIN~

CINTA UANG


CINTA UANG
OLEH; EV. I KETUT SUNALIS MUADI, S.TH



Cinta uang  dalam bahasa Yunaninya adalah “φιλαργυρια” (philarguria). Kata “φιλαργυρια” (philarguria) sendiri berasal dari kata  “φιλαργυρος” (philarguros) yang dalam TB sering diterjemahkan menjadi “hamba uang”.  Pada dasarnya kata “φιλαργυρος” (philarguros) sendiri terdiri dari dua kata yaitu  “φιλος” (philos) yang berarti: “sahabat, bersahabat” dan “αργυρος” (arguros) yang berarti :” uang” , “perak”.

Dengan demikian istilah “cinta uang” dan hamba  “hamba uang” pada prinsipnya sama. Dan maksud dari cinta uang ataupun hamba uang tidak hanya terbatas pada uang, tapi terhadap kekayaan pada umumnya.

Paulus mengingatkan Timotius sebuah fenomena akhir zaman bahwa pada hari-hari terakhir  manusia akan mencintai diri sendiri dan menjadi hamba uang disamping dosa-dosa akhir zaman lainnya.

2 Tim 3:1-2
1  Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.
2  Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,
Penulis Kitab Ibrani juga mengingatkan supaya pembacanya jangan menjadi hamba uang tapi belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada pada mereka.
Ibr 13:5  Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Dalam Alkitab masih begitu banyak ayat yang memperingatkan agar orang kristen jangan menjadi hamba uang atau cinta uang. Semua  peringatan Alktab ini membuktikan bahwa “cinta  uang” adalah sesuatu yang membahayakan orang percaya itu sendiri.

Pada kesempatan kali ini kita akan belajar tentang bahaya-bahaya dari cinta uang.


I.                   CINTA UANG BISA MEMBUAT KITA KEHILANGAN RASA PUAS
Pkh 5:9   Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.

Pengkhotbah mengatakan bahwa orang yang cinta uang akan tidak puas dengan uang. Mengapa demikian?, karena cinta uang  akan membuat kita kehilangan “rasa puas”.

Kata ”puas” dalam ayat  ini adalah “עבשׂ” (saba) atau “ עבשׂ” (sabea) dalam bahasa Ibraninya. Kata ini bisa berarti “puas” tapi bisa juga berarti “cukup”. Dengan demikian ini berarti bahwa orang yang cinta uang akan tidak pernah merasa puas atau tidak akan pernah merasa cukup. Hal ini bisa digambarkan dengan seseorang yang haus tapi seberapa banyakpun air yang diminumnya tidak bisa menghilangkan  dahaganya. Demikianlah orang yang cinta uang, mereka akan kehilangan “rasa puas/rasa cukup”. Apapun yang mereka peroleh dan sebanyak apapun mereka memperolehnya, semuanya itu tidak akan membuat mereka puas atau cukup.

Hal seperti ini pernah dialami oleh Bangsa Isarel, ketika mereka dalam perjalanan ke tanah Kanaan. Di padang Gurun mereka kehilangan rasa puas/cukup meski makanan masih ada dalam mulut mereka (Maz 78:27-30).

Maz 78:27-30
27  Ia menurunkan kepada mereka hujan daging seperti debu banyaknya, dan hujan burung-burung bersayap seperti pasir laut;
28  Ia menjatuhkannya ke tengah perkemahan mereka, sekeliling tempat kediaman itu.
29  Mereka makan dan menjadi sangat kenyang; Ia memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan.
30  Mereka belum merasa puas, sedang makanan masih ada di mulut mereka;

Sementara itu Tuhan menghendaki kita merasa cukup dengan apa yang ada sehingga keinginan kita diisi oleh kerinduan perkara-perkara yang di atas (Kol 3:1-4).
Dalam  1 Tim 6:8 dikatakan : “Asal ada makanan dan pakaian cukuplah.” Maksudnya adalah, yang penting bagaimana seseorang dapat menjalani hidup ini. Berkenaan dengan hal ini, Tuhan Yesus mengajarkan kita agar mengucapkan doa Bapa kami: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Rasa cukup dalam teks yunaninya adalah “autarkeias” yang berarti self-satisfaction (kepuasan pribadi), contentedness (kepuasan). Autarkeias hendak menunjukkan sikap hati yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki.

Cinta uang bisa membuat kepuasan pribadi (self-satisfaction) manusia menjadi hilang sehingga apapun yang sudah diperoleh dan berapa banyakpun yang diperolehnya tidak akan pernah bisa membuat ia berkata “cukup”.
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup“. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup“. Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.Belajarlah untuk berkata “Cukup“


Selanjutnya apa yang akan terjadi kalau kita telah kehilangan rasa puas tak pernah bisa berkata cukup ?

1.      Kita akan menjelma menjadi orang yang serakah.

Kalau “rasa puas” itu sudah tidak ada pada diri seseorang maka otomatis orang tersebut akan berusaha sedemikian rupa untuk memuaskan keinginannya. Hal ini akan memicu dan memacu orang tersebut untuk berusaha sedemikian rupa agar rasa hausnya terpuaskan. Orang yang serakah adalah orang yang tidak pernah puas. Ia selalu ingin memiliki lebih dari apa yang sudah dimilikinya, misalnya, ingin lebih banyak uang atau harta. Keinginan memiliki “lebih” ini tidak ada batasnya sehingga bisa membahayakan dirinya sendiri dan merugikan orang lain.  
Orang serakah tidak akan perduli dengan cara-cara mereka gunakan dalam mencari uang. Orang yang serakah akan menghalalkan segala cara bahkan sampai merampas sesuatu yang bukan miliknya. Selain itu mereka juga tidak peduli dengan waktu. Semua waktu yang diberikan Tuhan dihabiskan untuk cari uang dan tidak ada waktu sama sekali untuk Tuhan. Selain itu dalam mencari uang motivasi dan tujuan mereka hanya untuk dirinya sendiri dan tidak ada terbesit sedikitpun untuk memikirkan orang lain dan membantu pekerjaan Tuhan.
Iman Kristen pada prinsipnya tidak pernah melarang umat untuk menjadi kaya; dan juga tidak pernah menganjurkan umat untuk hidup miskin. Tetapi yang diingatkan dan dinasihatkan oleh iman Kristen terus-menerus adalah bahaya dari sikap keserakahan untuk memperoleh kekayaan.  Sikap serakah bukan hanya sekedar sikap yang ingin memperoleh banyak seperti uang dan harta benda, tetapi sesungguhnyanya sikap serakah merupakan suatu hawa nafsu yang liar dan tidak pernah terpuaskan sehingga orientasi hidup dialihkan secara total kepada keinginan yang duniawi.
Sikap seseorang yang serakah dalam kekayaan berarti mereka secara sengaja dan sadar untuk menjadikan mamon sebagai penentu hidupnya.

Keserakahan ini ternyata di dalam Alkitab disamakan dengan berhala (Kolose 3:5)
Kol 3:5  Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, (TB)

Col 3:5  Mortify therefore your members which are upon the earth; fornication, uncleanness, inordinate affection, evil concupiscence, and covetousness, which is idolatry: (AV)

Kata berhala di sini dalam bahasa Inggris diterjemahkan dari “idolatry”. Kata ini sebenarnya berasal dari bahasa Yunani “ειδωλολατρεια”  (eidololatreia). Dua kata yang digabung  “ειδωλον” (eidolon) dan “λατρεια” (latreia). Edolon adalah berhala dan latreia berarti berbakti. Berhala itu berarti kebaktian kepada obyek lain di luar Tuhan. Tuhan menentang ini dengan hukum pertamaNya: Jangan ada padamu allah lain dihadapanKu.

Dalam Efesus 5:5, Paulus menyatakan bahwa orang-orang serakah tidak akan mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
Ef 5:5  Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.

Semua ini membuktikan bahwa keserakahan adalah dosa yang serius. Keserakahan adalah akibat hilangnya rasa puas atau sulitnya berkata cukup. Memang rasa cukup atau kepuasan pribadi setiap orang memang relatif. Cukupnya seseorang berbeda dengan orang lain. Tetapi seseorang dapat menguji apakah yang diingini itu memang benar-benar kebutuhan atau ternyata berunsur keserakahan, kesombongan dan upaya meningkatkan harga diri. Keserakahan di dalam Alkitab sering dikemukakan sebagai dosa utama. Mengapa keserakahan disebut sebagai dosa utama?.  Sebab Apabila kita serakah dan mengabdi kepada mamon, maka seluruh uang dan harta yang kita miliki akan kita gunakan untuk mendukung seluruh program kuasa duniawi, kita manfaatkan untuk menekan orang-orang yang lemah, kita gunakan uang yang ada untuk ketidakadilan dan kejahatan. Jika demikian, bagaimana orientasi hidup kita yang sesungguhnya? Apakah hidup kita kini makin tertuju kepada Allah dan Kristus, ataukah hidup kita tertuju kepada Mamon? “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Tim. 6:9).

2.      Kita akan menjelma menjadi orang yang tidak bisa bersyukur.

Bersyukur  hanya akan terjadi jika kita memiliki rasa puas dan bisa berkata cukup, dan ketiadaan rasa puas akan membuat kita tidak bisa bersyukur. Dengan kata lain bersyukur adalah bentuk nyata dari adanya rasa puas, dan kalau tidak ada rasa puas maka tidak ada juga syukur.

Inilah yang akan terjadi bagi orang yang cinta uang. Cinta uang akan menghilangkan rasa puasnya dan akan membuat dia menjadi orang yang tak bisa bersyukur. Untuk itu jangan heran dengan orang-orang yang suka mengeluh/menggerutu/mengomel, semua itu adalah wujud nyata dari adanya masalah pada rasa puasanya.

Nabi-nabi palsu dan guru-guru palsu adalah orang yang cinta uang atau hamba uang(Luk 16:14), mereka hanya melayani perut mereka karena tuhan mereka adalah perut mereka sendiri. Yudas menggambarkan mereka sebagai orang yang suka menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya .

Yud 1:16  Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.

Kalau ditanya apa sebabnya ?, jawabannya adalah karena hilangnya rasa puas yang disebabkan oleh cinta uang. Karena itu jangan jadi hamba uang karna akan menggiring kita pada kehilangan rasa puas dan akan membuat kita tidak bisa bersyukur tapi sebaliknya hanya menggerutu dan mengeluh, padahal Allah menghendaki kita untuk bersyukur senantiasa

3.      Kita akan kehilangan keuntungan dari berbibadah.

Dalam Alkitab ada 2 hal yang membuat ibadah kita menjadi tak berguna.
Pertama adalah saat kita tidak mengekang lidah (Yakobus 1:26).
Yak 1:26  Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

Kedua adalah dalam 1 Timotius 6:6
1 Tim 6:6  Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
Ayat di atas mengatakan bahwa ibadah yang disertai “rasa cukup/rasa puas” akan memberi keuntungan besar. Ayat ini bisa dibalik redaksinya yaitu bahwa ibadah yang tidak disertai rasa cukup tidak akan memberi keuntungan (sia-sia).
Ini berarti bahwa di saat kita kehilangan rasa puas atau rasa cukup maka ibadah yang kita lakukan tidak akan memberi keuntungan apapun alias sia-sia.

Inilah alasan mengapa Timotius diingatkan untuk melatih dirinya beribadah, karena ibadah itu bermanfaat dalam segala hal.

1Tim 4:7  Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. 8  Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

Sekarang coba bayangkan disaat kita sering ibadah tapi manfaat ibadah kita tidak pernah terima cuma karena hilangnya rasa cukup/rasa puas. Ingat semua ini biang keroknya adalah cinta uang.


II.                CINTA UANG  BISA MENJADI LANGKAH AWAL  SEGALA KEJAHATAN
1Tim 6:10  Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (TB)

Kata  “Akar” adalah  “ριζα” (rhiza) dalam bahasa Yunaninya. Arti dari “ριζα” (rhiza) ini adalah : akar; tunas; turunan; asal-usul;sumber; penyebab. Dengan demikian ketika cinta uang dipandang sebagai akar kejahatan, maka yang dimaksudkan adalah sumber/penyebab dari segala kejahatan adalah cinta uang. Dalam terjemahan Firman Allah yang Hidup (FAYH), diterjemahkan menjadi langkah pertama/awal segala jenis dosa.

1Tim 6:10  Karena cinta akan uang adalah langkah pertama menuju kepada segala jenis dosa. Bahkan beberapa orang berpaling dari Allah karena cinta akan uang. Akibatnya, mereka mencelakakan diri sendiri. (FAYH)

Memang benar apa yang Paulus katakan. Segala dosa dan kejahatan pada hakikatnya berawal, bersumber dari cinta uang. Karena itu coba kita buktikan satu persatu.

-          Apa yang membuat Ananias dan Safira berdusta dan tidak menepati janjinya dengan tidak mebayarkan nazarnya secara penuh?. Jawabannya adalah cinta uang. Ananias dan Safira adalah suami istri yang tinggal dan menjadi anggota gereja mula-mula di Yerusalem. Kisahnya terdapat dalam Perjanjian Baru di Alkitab , yaitu dalam Kisah Para Rasul 5 ayat 1-11. Nama Ananias berarti Allah telah memberikan, atau Allah Rahmani. Sedangkan nama Safira berarti cantik atau yang jelita. Nama mereka indah dan bermakna, namun itu bukan jaminan bahwa perilaku mereka berkenan di hadapan Tuhan. Mereka berdua dianggap sebagai jemaat yang tidak taat kepada Tuhan karena pada dasarnya mereka adalah orang yang cinta pada uang. Mereka mendustai Roh Kudus, harta hasil penjualan tanahnya tidak diberikan seluruhnya sebagai persembahan di dekat kaki Rasul (Petrus). Suami istri ini berkomplot untuk berdusta. Lalu keduanya mati, yang pertama Ananias, lalu tiga jam kemudian Safira, yang bersaksi sama (dusta) dengan suaminya. Cinta uanglah yang membuat mereka berani berdusta dan ingkar janji.

Ada seorang miliuner bertamasya naik kapal pesiar yang mewah. Namun, nasib sial menimpanya. Kapal pesiar yang ia tumpangi pecah. Ia terkatung-katung pada serpihan kapal tersebut. Dalam keadaan tidak berdaya, ia bernazar kepada Tuhan: “Jika aku selamat sampai di darat, akan kupersembahkan separuh dari kekayaanku.”
Tak lama kemudian datanglah tim SAR dan ia tertolong, selamatlah ia sampai di rumah. Lalu ia teringat akan nazarnya, ia menghitung kekayaannya dan ternyata sangat besar, lalu timbullah rasa sayang pada kekayaannya karena ia cinta uang. Ia bingung. Ia sudah bernazar dan sekarang selamat.

Kemudian, timbul ide dan ia berkata kepada dirinya sendiri, “Ketika aku bernazar di laut, kekayaanku hanya yang ada di dompet,” ia membuka dompet dan menghitungnya, lalu membagi uangnya menjadi dua.
“Kekayaan di laut beda dengan yang di darat, Tuhan,” ia berdoa kepada Tuhan.

Demikian juga dengan saudara dan saya, saat kita mulai mencintai uang atau menjadi hamba uang, pada saat yang sama kita akan terjerumus dalam berbagai-bagai kejahatan, salah satunya adalah mudah mengingkari janji  baik terhadap sesama maupun terhadap Tuhan.

-          Apa yang menjadi latar belakang “perampokan”/”Penyerobotan” kebun anggur Nabot oleh Ahab dan Izebel?, apa juga yang menyebabakan Nabot orang Yizreel harus difitnah dan dibunuh? Jawabannya adalah karena Ahab dan Izebel adalah hamba uang. Demikian juga yang menjadi latar belakang tindakan perampokan, pencurian, copet, fitnah bukanlah karena demi sesuap nasi, tapi karena sebongkah berlian alias cinta uang. Banyak orang yang cacat, orang miskin tidak mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan buktinya mereka masih hidup. Kalau ada orang menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk merampok, mencuri atau mencopet maka itu adalah alasan yang tidak masuk akal. Alkitab mengatakan bahwa semua kejahatan dan dosa semacam itu didorong oleh cinta uang.

-          Apa yang mendorong orang untuk korupsi?, jawabannya adalah cinta uang. Pada kasus  korupsi pada umumnya dilakukan oleh orang yang punya kedudukan yang cukup baik dan tidak ada persoalan dengan makan dan minum. Mereka korupsi bukan karena tidak ada yang hendak dimakan atau minum tapi karena cinta uang. Sekali lagi apa yang Alkitab katakan itu benar adanya.


-          Apa yang membuat anak remaja terjerumus dalam prostitusi, jawabannya adalah cinta uang dan tidak mau cari uang dengan cara susah, makanya dipilih cara yang yang enak, gampang dan menghasilkan banyak uang. Sekali lagi ini adalah cinta uang, dan bukan karena tidak ada uang.

-          Apa yang membuat Orang Kristen menjadi kikir/pelit  dan egois dan tidak peduli sama sekali dengan orang-orang yang berkekurangan dan juga tidak peduli dengan pekerjaan Tuhan?, Jawabannya adalah cinta uang. Cinta uang ini juga masalah yang dihadapi oleh John Wesley. John Wesley pernah berkhotbah, “Hai orang Kristen, carilah uang dengan giat. Amin? (Lalu jemaat menjawab “Amin!”). Setelah mendapat banyak uang, simpanlah uangmu dengan baik, jangan memboroskannya. Amin? (Jemaat menjawab “Amin!”). Setelah itu, persembahkan sebanyak mungkin pada Tuhan. Amin?” Lalu suara “Amin” pun menghilang. Semua orang saling berpandangan, tapi tak terdengar lagi kata “Amin!”. Mengapa demikian? karena cinta uang.
Masih banyak contoh-contoh baik dari dalam Alkitab maupun dalam kehidupan sekarang ini yang membuktikan bahwa cinta uang adalah akar/sumber/penyebab segala kejahatan. Cinta uang adalah langkah pertama bagi segala macam dosa dan kejahatan.

III.             CINTA UANG BISA MEMBUAT KITA MENYIMPANG DARI IMAN

1Tim 6:10  Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (TB)

Kata “iman” dalam Alkitab sering digunakan dalam pengertian yang berbeda-beda. Namun dalam ayat ini kata iman lebih cocok dimengerti sebagai Formula ajaran Kristen. Dengan kata lain “iman” dalam ayat ini adalah sama dengan “doktrin Kristen”. Dalam terjemahan Versi Mudah Dimengerti (VMD) kata “iman” diterjemahkan menjadi ajaran yang benar.

1Tim 6:10  Mencintai uang adalah akar dari segala kejahatan. Beberapa orang telah meninggalkan ajaran yang benar sebab mereka ingin terus mencari uang dan akhirnya sangat menderita.(VMD)

Dengan demikian maksud Paulus dalam ayat di atas adalah cinta uang bisa membuat seseorang mengorbankan, menyangkal, menolak dan meninggalkan ajaran yang benar. Dengan kata lain Cinta uang menuntun orang menjauh dari pengharapan sejati orang Kristen. Orang Kristen yang cinta uang akan keluar dari rel kebenaran FT dalam mencari uang. Atau mereka akan kompromikan ajaran yang benar dengan ajaran-ajaran dunia. Bisa juga pada akhirnya mereka meninggalkan kekristenan karena cinta uang.

Seorang hamba Tuhan yang cinta uang akan mengkonversikan ajarannya agar bisa diterima. Menurunkan standart kebenaran firman Tuhan agar menyenangkan telinga jemaatnya, agar jemaatnya bertambah banyak dan persembahan maupun perpuluhan meningkat. Demikianlah betapa cinta uang bisa membuat orang meninggalkan ajaran yang benar.

Dalam Alkitab kita mengenal seorang Nabi yang bernama  Bileam. Nabi ini adalah nabi  suka menerima upah (suap) dari perbuatan-perbuatannya yang jahat.

2Ptr 2:15  Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.
Jika kita berbicara tentang Bileam,  sudah pasti nama Bileam di sini dikaitkan dengan Bileam di dalam Perjanjian Lama, yakni seorang nabi yang diminta oleh Balak (raja Moab) untuk mengutuk bangsa Israel (Bil 22-25). Hanya saja Bileam tidak bisa mengucapkan kutuk-kutuknya kepada Israel karena ada intervensi langsung dari Tuhan sehingga ia justru bukan mengucapkan kata-kata kutuk pada Israel tapi justru kata-kata berkat. Coba kita bandingkan :

Ul 23:5  Tetapi TUHAN, Allahmu, tidak mau mendengarkan Bileam dan TUHAN, Allahmu, telah mengubah kutuk itu menjadi berkat bagimu, karena TUHAN, Allahmu, mengasihi engkau.

Yos 24:9-10 –(9) Ketika itu Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan orang Israel. Disuruhnya memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki kamu. (10) Tetapi Aku tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga ia pun memberkati kamu. Demikianlah Aku melepaskan kamu dari tangannya.

Demikianlah Bileam gagal total dalam mengucapkan kutuk terhadap Bangsa Israel. Namun jika kita teliti lebih lanjut,  dalam Bilangan 25 kita akan mendapati cerita bahwa ada banyak orang Israel yang terlibat perzinahan dengan perempuan-perempuan Moab, dan lalu perempuan-perempuan Moab itu membujuk mereka sehingga mereka terlibat dalam penyembahan berhala dan makan makanan berhala yang diperuntukkan bagi dewa-dewa Moab.

Bil 25:1-3 – (1) Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. (2) Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu. (3) Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, …”

Hal Ini membuat Tuhan menjadi sangat murka dan Tuhan memerintahkan  Musa untuk membunuh dan menggantung semua orang Israel yang berzinah itu dan menyembah berhala Moab.

Bil 25:4-5 – (4) lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tangkaplah semua orang yang mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka di hadapan TUHAN di tempat terang, supaya murka TUHAN yang bernyala-nyala itu surut dari pada Israel." (5) Lalu berkatalah Musa kepada hakim-hakim Israel: "Baiklah masing-masing kamu membunuh orang-orangnya yang telah berpasangan dengan Baal-Peor."

Akibatnya jumlah orang yang terbunuh pada saat itu begitu banyak yakni sebanyak 24.000 orang.

Bil 25:9 - Orang yang mati karena tulah itu ada dua puluh empat ribu orang banyaknya.

Bilangan 25 hanya menceritakan peristiwa ini saja tanpa menjelaskan ada apa di balik semua ini dan mengapa sampai begitu banyak orang Israel bisa terlibat perzinahan dengan perempuan-perempuan Moab itu dan bahkan penyembahan berhala? Tetapi belakangan dari kata-kata Musa di Bil 31:16, kita tahu bahwa Bileamlah otak di balik semuanya ini.

Bil 31:16 - Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN.

Dari sini kita bisa ketahui bahwa setelah tidak berhasil mengutuk Israel, rupanya Bileam memberikan nasihat kepada raja Moab (Balak) untuk melakukan strategi / siasat menjebak bangsa Israel dengan menyuruh perempuan-perempuan Moab menggoda orang-orang Israel dan melibatkan mereka pada perzinahan dan penyembahan berhala. Dalam Wahyu 2:14 juga dicatat bagaimana Bileam menasihati Balak untuk menyesatkan Israel supaya mereka makan persembahan dan berbuat Zinah.

Wah 2:14 – “…Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa cinta uang telah membuat Bileam meninggalkan ajaran yang benar dan kompromi dengan ajaran yang menentang kebenaran. Mata hati Bileam  telah dibutakan oleh cinta uang yang membuat dia tidak peduli lagi dengan ajaran yang benar. Yang tidak benar dan menyesatkanpun dia ajarkan asal dia dapat uang.

Banyak hamba-hamba Tuhan sekarang yang bertingkah seperti Bileam. Mulutnya manis, untuk menjilat demi keuntungan. Mau mengajarkan ajaran-ajaran yang tidak alkitabiah Cuma dengan alasan uang. Sudah tahu salah, tidak menggunakan metode hermeneutika yang benar tapi tetap mengajar yang demikian, akibatnya jemaat bukan bertumbuh tapi malah mudur dan kehilangan pengharapan sejati dalam Kristus.

Demikianlah cinta uang bisa membuat orang kompromi dengan ajaran tidak benar, cinta uang bisa membuat orang murtad dan kehilangan pengharapannya dalam Kristus Yesus.

IV.             CINTA UANG AKAN MENIKAMKAN BERBAGAI DUKACITA PADA DIRI KITA

1Tim 6:10  Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Kata “menyiksa” dalam ayat ini adalah “περιπειρω” (peripeiro) yang secara hurufiah berarti: menikam, menusuk atau menyula. Dalam terjemahan lama kandungan makna dari kata “περιπειρω” (peripeiro) terlihat dengan jelas.
            Tim 6:10  Karena tamak akan uang itulah akar segala jenis kejahatan; maka ada orang, yang merebutnya itu, telah tersesat daripada iman, sehingga menikamkan banyak duka cita ke dalam dirinya. (TL)
Dengan demikian sebenarnya cinta uang adalah sikap yang akan menikam/menusuk /menyula diri sendiri dengan berbagai duka cita. Singkat kata cinta uang akan membunuhmu, lebih keras lagi cinta uang adalah bunuh diri bro.

Ketika Tuhan memerintahkan sesuatu agar kita lakukan sebanarnya hal itu untuk kebaikan kita sendiri, demikian juga ketika Tuhan melarang sesuatu agar kita tidak lakukan  itu juga untuk kebaikan kita. Dengan kata lain aturan yang Tuhan berikan adalah semata-mata demi kebaikan kita. Cara berfikir semacam ini seharusnya tertanam dalam pikiran kita sebagai orang Kristen.

Ketika Pemerintah melalui kepolisian membuat peraturan untuk setiap pengendara mobil harus memakai sabuk pengaman dan helm bagi pengendara motor, sebenarnya peraturan itu dibuat bukan untuk keuntungan Pemerintah atau Polisi tapi demi keselamatan para pengendara tadi.

Demikian juga ketika Tuhan melarang kita untuk mencintai uang atau menjadi hamba uang, sebenarnya perintah itu Tuhan berikan demi kebaikan kita sendiri. Tuhan tahu bahwa cinta uang akan bisa menyiksa kita, bisa menikam kita, bisa menyula kita dengan berbagai-bagai duka. Tuhan tahu bahwa cinta uang bisa  membunuh kita, dengan cara yang sangat menyiksa dan menyakitkan.

Orang yang cinta uang selalu kuatir dalam hidupnya. Saat dia tidak punya uang dia kuatir, saat banyak uang juga kuatir. Pokoknya hidupnya senantiasa diwarnai dengan ketakutan, kecemasan, risau, galau. Dan jangan pernah berpikir orang yang takut, cemas, galau, kuatir tersebut tidak tersiksa hidupnya. Perasaan-perasaan tersebut adalah perasaan yang menyiksa sekali laksana ada pisau yang menghujam pas di hati kita. Perasaan semacam itu membuat metabolisme tubuh kita terganggu dan akhirnya berakibat pada kematian. Namun alangkah bahagianya di saat kita bisa terlepas dari perasaan-perasaan tersebut. Ternyata caranya belajar berkata cukup. Dan untuk bisa berkata cukup caranya adalah jangan jadi hamba uang atau cinta uang.


V.                CINTA UANG BISA MEMBUAT FIRMAN YANG DITABURKAN DALAM HATI KITA MENJADI TIDAK BERBUAH

Mat 13:22  Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

Pada dasarnya orang kuatir bukan karena tidak punya uang tapi karena cinta uang. Orang cinta uang akan kuatir saat tidak punya dan juga akan terus kuatir saat punya.

Cinta uang membuat kita tidak akan pernah puas, selanjutnya kita akan terus kuatir. Selanjutnya kekuatiran dan tipu daya kekayaan akan menyebabkan firman yang tertanam dalam hati kita akan terhimpit dan tidak akan menghasilkan buah. Inilah yang Yesus ajarkan saat Dia memberi perumpamaan tentang seorang penabur.

Sebagai contoh,  entah berapa kali kita sudah mendengar atau mungkin membaca Firman Tuhan agar kita tidak kuatir. Tapi anehnya kita masih saja  kuatir. Ini membuktikan bahwa Firman tetang kekuatiran baik yang kita dengar ataupun baca tidak berbuah. Apa yang membuat firman yang sudah tertanam dalam hati itu tidak berbuah?, jawabannya adalah kuatir. Dan kuatir penyebabnya adalah cinta uang.

Tuhan Yesus mengajar kita untuk tidak kuatir tentang apapun juga,  dengan dasar bahwa hidup itu lebih penting dari makanan dan tubuh itu lebih penting dari  pakaian (Mat 6:25).

Mat 6:25  "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

Maksud Tuhan di sini adalah bahwa Tuhan memperhatikan hal-hal yang penting apalagi hal-hal kurang penting. Kalau Hidup saja Tuhan beri apalagi perlengkapannya yaitu makanan. Kalau Tubuh saja Tuhan berikan apalagi Cuma aksesorisnya yaitu pakaian sudah pasti Tuhan berikan.  Ibaratnya begini, kalau orang tua kita membelikan kita motor, jangan kuatir  kalau mereka tidak mau membelikan kita helm. Motor saja mereka berikan apalagi cuma helm.

Selanjutnya Tuhan Yesus menyuruh kita untuk memandang burung-burung di udara yang tidak menabur dan tidak menuai, toh dipelihara oleh Bapa di Sorga.

Mat 6:26  Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Di sini Yesus mengajak kita untuk melihat bahwa kita sebagai orang percaya melebihi baurung-burung tersebut. Burung dan segala binatang lainnya hanyalah hewan peliharaan dalam kacamata Allah, sedangkan kita adalah anak-anaknya. Hewan peliharaan-Nya saja dipelihara apalagi kita.

Di rumah saya ada 3 ekor anjing yaitu Angel, cemonk, dan Ciyus Hachiko. Setiap hari mereka diberi makan dan dimandikan. Kalau anjing-anjing ini sakit maka mereka akan diobati agar sembuh. Demikianlah saya dalam memelihara mereka. Kalau kemudian anak saya kuatir kalau tidak diberi makan dan pakaian, maka itu berarti bahwa anak saya belum mengetahui bahwa mereka jauh lebih berharga daripada hewan peliharaan saya, karena mereka adalah anak-anak saya. Kalau hewan peliharaan saja saya perhatikan apalagi anak-anak saya sendiri.

Demikian juga dengan Tuhan yang adalah Bapa kita, Ia akan memelihara kita melebihi Ia memelihara hewan peliharaan-Nya, karena kita jauh lebih berharga.

Namun ironisnya, meskipun kita sudah mengerti dan sering mendengar Firman Tuhan tentang kuatir, tapi jujur seringkali kita tetap saja kuatir. Ini membuktikan bahwa firman Tuhan tersebut telah dihimpit oleh kekuatiran dan kekuatiran itu penyebabnya adalah cinta uang.

Dengan kata lain Firman Tuhan tidak punya efek sama sekali karena kekuatiran dan tipu daya kekayaan. Firman Tuhan tidak bertumbuh dan berbuah sama sekali, dan ternayata penyebabnya adalah cinta uang.

Untuk itu dapat saya simpulkan bahwa cinta uang itu berbahaya bro.  Karena itu jangan cinta uang atau menjadi hamba uang, toh uang bukanlah segala-galanya.

Dengan uang, engkau dapat :

Membeli tempat tidur, tapi tidak dapat membeli tidur nyenyak…

Membeli sebuah jam, tapi tidak dapat membeli waktu…

Membeli sebuah buku, tapi tidak dapat membeli pengetahuan…

Membeli posisi yang bagus dalam pekerjaan, tapi tidak dapat membeli kehormatan…

Membeli obat-obatan, tapi tidak dapat membeli kesehatan…

Membeli darah, tetapi tidak dapat membeli kehidupan…

Jadi, uang bukanlah segalanya… Karena jangan jadi hamba uang tapi jadikan uang sebagai hamba.



~AMIN~